Showing posts with label BOEDOET. Show all posts
Showing posts with label BOEDOET. Show all posts

0 Sejarah Singkat SMKN 1 JAKARTA

Friday, November 16, 2012



Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Jakarta adalah sekolah teknik yang tergolong paling tua diantara sekolah teknik yang ada di Jakarta. Sekolah ini didirikan pada tahun 1906 oleh Belanda dengan nama "KONING KLIKE WILHELMINA SCHOOL" yang disingkat KWS. KWS tersebut didirikan belanda dengan tujuan mendidik siswa-siswa Belanda dan siswi pribumi pilihan yang dipersiapkan sebagai tenaga teknik dalam rangka membangun negara Hindia Belanda. Konon, banyak lulusan KWS yang berhasil pada masa itu. Kemudian setelah Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945 dan kekuasaan pemerintah diambil alih oleh putra bangsa Indonesia, maka pada tahun 1946 Koning Klike Wilhelma School (KWS) dirubah namanya menjadi Sekolah Teknik Menengah (STM).

Selama masa perjuangan gedung ini juga memanfaatkan oleh para pejuang untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, antara lain : Pada tanggal 10 September 1945 di gedung sekolah ini berdiri Badan Keamanan Rakyat Bagian Laut yang merupakan cikal bakal TNI Angkatan Laut. Gedung ini pernah dipergunakan untuk Palang Merah Indonesia, guna untuk membantu para pejuang Republik Indonesia.

Pada masa penyelenggaraan Asian Games IV tahun 1962, gedung ini juga dipergunakan untuk Markas besar Asian Games IV. Pada saat itu gedung sekolah sisi timur untuk belajar para siswa STM I, sedangkan gedung sekolah sisi barat Markas Besar Asian Games IV dan Ganefo I. Setelah selesai penyelenggaraan kegiatan Asian Games IV dan Ganefo I pada tahun 1966 seluruh gedung dikembalikan kepada STM I sampai sekarang.

Mengingat gedung ini mempunyai nilai sejarah dan termasuk salah satu gedung yang harus di lindungi serta setelah masuk dalam aset cagar budaya daerah gedung ini tidak akan mengalami perubahan bentuk.

Pada tanggal 10 September 1978 oleh Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta, bapak Letjend. Tjokopranolo gedung ini diresmikan sebagai gedung perjuangan yang ditandai dengan penandatanganan Parasti. Hingga kini gedung ini masih tetap seperti pertama dibangun pada tahun 1906.

Sampai saat ini Program Keahlian yang diselenggarakan SMK Negeri 1 Jakarta : 
1 .Teknik Bangunan
2 .Teknik Ketenagalistrikan
3 .Teknik Mesin
4 .Teknik Kendaraan Ringan
5 .Teknik Komputer dan Jaringan

Berikut adalah nama-nama dan masa jabatan Kepala Sekolah SMK NEGERI 1 JAKARTA
NO.NAMAMASA JABATAN
1.Ir. GratamaTahun 1906-1921
2.Ir. GrandjeanTahun 1921-1931
3.Ir. PappingTahun 1931-1942
4.B.SyariefTahun 1945-1946
5.Ir. Li Tjwan TjayTahun 1948-1955
6.AG MasuliliTahun 1955-1971
7.Ir H. BarmawiTahun 1971-1976
8.Endan Sudana B.ScTahun 1976-1986
9.Drs. M.Ruyaman J.B.ScTahun 1986-1989
10.Moekadji Moekodam, B.ScTahun 1989-1996
11.Drs. KhusenTahun 1996-2001
12.Bowo IriantoTahun 2001-2004
13.Drs. H.Djoko Prihanto BE.MMTahun 2005-2008
14.Drs. Hasoloan Pakpahan, MPETahun 2009-2011
15.Drs. Adi PurwantoroTahun 2011-Sekarang
Read more

0 SMK NEGERI 1 JAKARTA PENGGAGAS STOP TAWURAN



Era tahun 80-90, nama Boedoet begitu wangi. Namanya tentu tak asing lagi bagi banyak orang, apalagi bagi pelajar. Tak hanya di Jakarta. Namun, di sejumlah kota-kota luar Jakarta; seperti Bekasi, Bandung, Cirebon, Jogja, Medan, dan daerah lain. Coretan piloknya pun sampai ke puncak-puncak gunung.
Boedoet adalah sekolah legenda di Jakarta. Nama Boeodet diambil dari nama jalan: Jalan Boedi Oetomo 7, Jakarta Pusat. Letaknya tak jauh dari Masjid Istiqlal, Monas dan Istana.
Dulu, di Jalan Budi Utomo ini ada STM N 1, STM PGRI 4, STM N 5, STM PGRI 4 dan SMA N 1. Saat itu, keharuman nama sekolah-sekolah di sana diasosiasikan sebagai hal negatif. Raja tawuran, hobi berantem. Tapi, itu dulu. Dulu sekali. Saat ini, nama Boedoet masih tetap wangi. Selalu membumi. Tentu saja kewangiannya bukan lagi negatif.

Penggagas Deklarasi STOP TAWURAN
Para alumninya pun memberi perhatian penuh kepada Boedoet. Mereka beradzam kuat ingin menjadikan sekolah legenda itu mampu menebar maslahat bagi bangsa ini. Salah satunya, seperti agenda akhir pekan 29/9 kemarin. Siswa, sekolah, dan alumni Boedeoet menggagas gerakan moral dengan aksi damai bertajuk: Stop Tawuran Pelajar Indonesia!
Agenda ini digagas pihak SMK N 1 Jakarta, IKAT 1 JAKARTA (Ikatan Alumni Teknik STMN/SMKN 1 Jakarta, Fokat (Forum Komunikasi dan Silaturahmi) Boedoet 145 serta seluruh alumni Boedoet.
Aksi damai itu dimeriahkan sejumlah rangkaian acara: Orasi dari alumni dan perwakilan sekolah yang hadir, theatrikal oleh Petruk Vannolnam alumni STM PGRI 4 tahun 1989, penyalaan lilin tanda duka, pembacaan doa untuk kawan-kawan Boedoet yang telah mendahului dan khususnya para pelajar korban tawuran. Sekaligus pernyataan sikap bersama dari para Alumni Boedoet dan para undangan sekolah lain.
Deklarasi Stop Tawuran ini menghasilkan tujuh poin yang tertuang dalam berkas pernyataan sikap Aliansi Alumni Pelajar Jakarta. Dalam dokumen itu tertulis, “Kami sebagai alumni diperhadapkan dengan figur yang meninggalkan warisan keburukan; yaitu TAWURAN.” Sebagai salah satu yang dimiliki, para alumni berkomitmen memutus rantai komando dari senior ke junior dalam konteks kebiasaan.
Tujuh butir pernyataan sikap Aliansi Alumni Pelajar Jakarta, yakni: 
Pertama, mengimbau pada seluruh alumni pelajar agar bekerjasama menghentikan budaya tawuran dan membentuk wadah alumni di masing-masing almamater.
Kedua, meminta seluruh pelajar memelihara kerukunan, perdamaian dan persaudaraan. 
Ketiga, meminta pihak kepolisian agar mengambil tindakan cegah tangkal; bukan kejar tangkap. Karena adik-adik pelajar selain berkewajiban menjaga nama baik sekolah; mereka juga punya hak untuk mempertahankan dan membela diri.
Keempat, mendesak pihak kepolisian untuk melakukan jadwal sweeping ke berbagai sekolah dan titik tongkrongan yang terindikasi berkumpulnya pelajar yang suka tawuran. 
Kelima, meminta pemerintah melakukan tindakan komprehensif dan sungguh-sungguh dalam menangkal tawuran. Dengan kata lain, tidak tanggung-tanggung atau hanya mencari isu seksi/populer.
Keenam, meminta pihak sekolah melakukan tindakan sanksi yang sesuai, namun tetap memprioritaskan pengarahan dan pengaturan. Sebab, bisa saja pelajar yang tertangkap berada dalam posisi membela diri.
Poin ketujuh, “Kami Aliansi Alumni Pelajar Jakarta meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada orangtua kami, kepada guru, pada orangtua pelajar yang menjadi korban, guru-guru kami dan masyarakat pada umumnya.” Pernyataan sikap itu ditanda tangani Ketua Panitia Malam Renungan Aliansi Alumni Pelajar Jakarta, Otoie Hartoyo.  

 
Dulu Musuh, Kini Sahabat
Ada yang menarik dari agenda dekalarasi damai bertajuk : Stop Tawuran Pelajar Indonesia! Di sana, berkumpul pelajar dari sekolah-sekolah yang dulunya bertikai. Seperti sekolah penerbangan yang sering dikenal Kapal, ada pula Poncol, dsb. Sekolah itu dulunya menjadi musuh bebuyutan Boedoet. Tapi, dulu.
Sekarang, di ajang deklarasi mereka justru berkumpul dan berpose bersama antara siswa dan para alumninya. Para pelajar yang hadir dalam agenda itu berasal dari perwakilan BOEDOET 145, ST. JOSEP ( ISRAEL ), BAHARI ONE 45, PONCOL, KAPAL BLOK M/ HALIM, BONSER 3, 14 KMY, 12 PLO, KAPIN 45. Ada pula perwakilan dari TAMSIS 44, 8 CP, GRAFICA, BOEDOET 6 DEPOK, ZACK ONE, SMA 6, 1 DKI, 6 KR, KG, RISTEK, LAOET, 1 KZ, dan RESPEC.,hangat bgt suasananya gan semua bendera sekolah bersatu,,bendera ISRAEL,DOSQ,TAMSIS dll bersatu di bawah bendera merah putih bahkan ada yang membawa foto Alm.ALAWY pelajar yang baru2 ini diberitakan meninggal .




 

Mereka yang mulai mereka yang menyelesaikan.. Salah satu jiwa ksatria ..
Semoga diikuti oleh yang lain dan tidak hanya slogan

sumber :
http://forum.detik.com/boedoet-dulu-biang-tawuran-sekarang-penggagas-stop-tawuran-t532324.html

sumber video :
http://www.youtube.com/watch?v=xoRds6HgwFA
Read more

0 In Memorian BOEDOET

Friday, October 26, 2012

"JANGAN WARISKAN DENDAM KEPADA KAMI"
in memorial: Rival 913

Yang jelas hari ini kita semua tersentak dengan tewasnya siswa SMKN 1, lagi dan lagi. Selalu terulang dan terulang dari tahun ke tahun tanpa ada solusi yang terbaik dari semua pihak. Yang masih berjiwa muda berteriak "Nyawa di bayar Nyawa!". Yang berjiwa setengah tua berkata "Turut berduka cita, Serahkan semuanya kepada pihak yang berwajib. Jangan main hakin sendiri, kita ini negara hukum, serahkan semuanya
kepada hukum yang berlaku!". Sedangkan yang sudah tua hanya bisa mengurut dada dan berguman "Innalilahi wainnalilahi rojiun". Dan beberapa bulan kemudian berita duka ini pun hilang ditelan angin.

Lalu apa?? lalu kita tunggu lagi berita duka berikutnya, agar jiwa "Boedoet" kita kembali menggelora lagi dan kembali
mengulang kalimat2 diatas berdasarkan tingkatan usia dan kedewasaan dari masing - masing orang. "Tidak bosan?".
Kalau saya sih merasa bosan dan sayang pada generasi berikutnya yang akan selalu mewarisi dosa - dosa generasi sebelumnya,
dosa apa?.

Dosa itu bernama "Dendam". Tanpa kita sadari, Balas Dendam akan melahirkan Balas Dendam berikutnya, berikutnya dan berikutnya. Itulah yang telah kita wariskan pada generasi setelah kita, ini adalah ekses dari Show Of Force Basis dengan acara "Tataran-nya". Basis telah pula mewariskan musuh - musuh abadi yang harus diteruskan oleh generasi berikutnya.

Jadi kesimpulannya, apapun usaha dari pihak sekolah serta ikatan alumni untuk meredam tradisi tawuran di Boedoet khususnya di SMKN 1 semua akan percuma dan hanya menjadi sia - sia belaka. Karena semua usaha positif tersebut akan kembali di mentahkan oleh dominasi kekuatan basis yang masih melekat kuat di Boedoet karena sudah berjalan selama dua dekade. Perlu kesadaran dari senior - senior di Basis untuk sedikit demi sedikit mengikis dan menghapus dendam yang telah berkarat. Senior - senior di Basis sudah saatnya merubah paradigma lama dengan sebuah paradigma yang baru, bahwa masa depan generasi yang gemilang hanya dapat diraih dengan kemampuan "Otak" bukan dengan kekuatan "Otot".

Read more

2 WARUNG E’MAK BOEDOET


Warung E’Mak Boedoet ini ada di Jalan Wahidin II, Jakarta Pusat. Warung E’Mak Boedoet ini memang jadi langganan tempat makan siswa SMA Negeri 1 Jakarta dan SMK Negeri 1 Jakarta. Dulu, tahun 1980, letak warung ini persis di depan SMAN 1 di Jalan Boedi Oetomo, tetapi sejak tahun 1987 pindah ke Jalan Wahidin II.

Warung E’Mak Boedoet ini dikelola oleh Ibu Suhaenah. Buka setiap hari, kecuali Sabtu dan Minggu yang ngikutin jadwal libur pegawai dan murid sekolah. Bu Suhaenah menjual macem-macem makanan, mulai dari nasi, telur, sop iga sapi, tempe, tahu, ayam goreng, ati ayam, hingga gulai ikan mas.

Anggi dan Annisa, siswa SMKN 1 Jakarta, biasanya makan siang sepulang sekolah di Warung E’Mak Boedoet. ”Makanannya enak dan murah. Seporsi nasi atau bihun sama sambal goreng kentang cuma Rp 4.000,” kata Anggi.

Asyiknya nongkrong di Warung E’Mak Boedoet ini, kamu bisa dapat harga pelajar lho. Contohnya, makanan andalan, sop iga sapi dan gulai ikan mas, bisa kamu dapatkan dengan harga pelajar Rp 10.000.

Kalo untuk umum, misalnya pegawai negeri dan swasta yang kantornya di sekitar Warung E’Mak Boedoet, harga untuk mereka Rp 12.000. Teh manis untuk pelajar Rp 2.000, untuk pegawai Rp 3.000.

Harga untuk pelajar lebih murah karena disesuaikan dengan kantong pelajar. Harga murah itu bisa diberikan karena ada subsidi silang dari para pembeli yang notabene pegawai kantoran tadi. ”Enggak apa-apa harga makanan dimurahin buat anak sekolah, yang penting saya enggak rugi,” kata bu Suhaenah.

Menurut bu Suhaenah, dulu tahun 1980-an, siswa-siswa yang suka mampir ke Warung E’Mak Boedoet suka mengemplang. Maksudnya: makan tempe tiga, tetapi ngakunya makan satu. ”Ha-ha-ha, anak-anak itu lucu, tetapi, ya, sudahlah, namanya juga anak-anak,” kenang bu Suhaenah. Kalau anak Bandung soal begitu bilangnya ”darmaji” (dahar lima, ngaku hiji, makan lima, ngaku satu).

Lucunya, setiap kali ada reuni akbar SMAN 1, mereka yang dulu suka nongkrong di tempat Bu Suhaenah pasti menyempatkan diri bernostalgia dengan nongkrong di warung Bu Suhaenah. Bahkan, sampai bikin tenda tambahan.

Untuk ”menebus dosa” zaman dulu, mereka bahkan memberi hadiah kepada Bu Suhaenah. Bahkan, ada alumnus yang lulus tahun 1984 saat reuni memberi hadiah panci presto kepada Bu Suhaenah. Ada yang memberi uang Rp 600.000 dan Rp 250.000, ada yang mentransfer ke rekening tabungan ibu Suhaenah Rp 2 juta.

”Katanya buat bayar utang mereka yang dulu saat ngemplang ha-ha-ha. Sekarang kalau mereka makan di sini, cuma makan habis Rp 15.000, mereka bayar Rp 50.000. Enggak mau terima kembalian. Katanya buat bayar utang zaman dulu,” kata Bu Suhaenah.

SUMBER: http://m.kompas.com/news/read/data/2010.10.01.04491474
Read more

0 REUNI BOEDOET 145, 20 MEI 2012































Read more

0 SMAN 1 >> BOEDOET 7
















Sejarah SMA Negeri 1 Jakarta (Prins Hendrick School)

Tahun 1889 Gedung Budi Utomo No.7 diperkirakan sudah didirikan dan pertama kali dipakai oleh PHS (Prins Hendrick School). Pada masa pendudukan Jepang gedung ini dipakai sebagai salah satu perbekalan logistik markas tentaranya. Sebelum tahun 1945 di Jakarta sudah beridiri SMT (Sekolah Menengah Tinggi), yang menempati gedung Kanisius. Dan sekolah ini ternyata merupakan embrio dari SMA 1 yang sekarang. SMT dibubarkan setelah Jepang menyerah.

Tahun 1946 , tepatnya tanggal 13 Maret 1946 dibentuk sekolah Pemerintah yang pertama, yang mula-mula masih menggunakan nama SMT, lalu diubah menjadi SMOA (Sekolah Menengah Omoem Atas) yang menempati gedung PSKD di jalan diponegoro. SMOA kemudian diganti menjadi SMA yang pada waktu itu terkenal dengan sebutan SMA RI atau SMA Kiblik dengan Direkturnya: Bapak Drs. Adam Bachtiar.

Tahun 1947, dengan adanya Agresi Belanda, sekolah tersebut dibubarkan/dilarang, akan tetapi guru-guru serta pelajarnya tidak menyerah oleh ancaman penjajah Belanda. Kegiatan belajar mengajar dilanjutkan dengan menggunakan tempat-tempat antara lain : Rumah Bapak Adam Bachtiar di jalan Gondangdia Lama No.22, rumah Bapak Wagendorf di jalan Sawo No.12, dan di beberapa tempat rumah orang tua murid antara lain rumah Ny. Dr. Susilo di jalan Proklamasi No.69. karena mengalami keadaan demikian SMA RI terkenal juga dengan sebutan SMA Pejuang. Guru-guru yang dengan sukarela dan penuh dedikasi pada saat itu antara lain: Bapak R. Soetedja, Bapak Adam Bachtiar, Bapak Wagendorf, Bapak Syarif Tayeb, Bapak Soebroto dan Bapak Djamaloes. Sementara diantara pelajarnya antara lain adalah Bapak Mochtar Kusumaatmaja. Hal tersebut berlangsung sampai penyerahan kedaulatan kepada Pemerintah Republik Indonesia dari pihak Belanda pada tanggal 27 Desember 1949.

Pada awal tahun 1950 SMA Kiblik tersebut bergabung kembali tempat belajarnya dan menempati gedung di Jalan Budi Utomo No.7 sampai sekarang. Pada masa perang mempertahankan kemerdekaan, gedung di Jalan Budi Utomo ditempati oleh MTD (Militer Transport divisi). Juga pengurus besar PGRI pernah menempati gedung ini. SMA Kiblik dianti menjadi SMA 1 -A dan SMA 1-B dengan direkturnya Bapak Wagendorp. Tahun 1951 Bapak Wagendorp mendapat tugas dari pemerintah RI Inggris. Pimpinan SMA Negeri 1 -A dan SMA 1-B dipegang oleh Bapak R. Soetedja.

Kemudian berikut ini urutan pergantian nama SMA 1-A dan SMA 1-B hingga bernama SMA Negeri 1 kini :

- Tahun 1958 menjadi SMA 1-A dan SMA 1-B.
- Pada tahun tersebut SMA 1-A dipimpin oleh Bapak Supardo SH selama 6 bulan
- Tahun 1962 menjadi SMA 1 ABC.
- Tahun 1962-1964 Direkturnya adalah Bapak Ong Pok Kiat.
- Tahun 1964-1967 Direktur adalah Bapak H. Drs. Gazali Dunia.
- Tahun 1964 nama SMA 1 ABC diganti menjadi SMA Negeri 1.
- R. Djamaloes 1967 - 1974
Pada masa itu ruang belajar yang semula tertutup menjadi terbuka. Perubahan-perubahan waktu itu antara lain:Membuka Laboratorium Kimia, lapangan basket dan penambahan gedung baru sebanyak 18 lokal (gedung tingkat tiga di bagian belakang).

Akhir tahun 1974 sampai pertengahan tahun 1980 Direkturnya adalah Bapak Drs. Joelioes Joesoef. Dan pada masa jabatannya juga banyak perubahan-perubahan antara lain: lapangan upacara diperluas, pembukaan perpustakaan, pembaharuan aula yang dilengkapi dengan laboratorium Fisika dan Biologi, peresmian Pramuka Gugus Depan 481-482. dan yang penting lagi yaitu sejak tahun 1978 gedung jalan Budi Utomo No.7 hanya digunakan oleh SMA 1, karena SMA V dipindahkan ke Sumur Batu.

Sejak bulan Mei 1980 jabatan Direktur SMA 1 dipegang oleh Bapak J. Ch. Lesilolo. Berikutnya Bapak N.T. Padidi memegang jabatan sebagai Direktur SMA 1 sejak Mei 1981 sampai dengan 1987. Kemudian beliau digantikan oleh Bapak E. Pakpahan. Namun beliau hanya sempat menangani SMA 1 sampai tahun 1988 karena beliau meninggal dunia. Lalu Bapak T.H. Simbolon sementara menggantikan kedudukan Kepala Sekolah di SMA 1 ini. Sampai akhir tahun 1988 yang kemudian Bapak Djoko Sudibyo datang untuk memegang kendali SMA 1. Tahun 1989 sampai tahun 1992 diganti menjadi Bapak Asrul Chatib. Setelah itu Bapak M. Yunan Abdoellah yang memegang kendali Kepala Sekolah SMA 1 sampai tahun 1994. Dan tahun 1995 sampai tahun 1996 digantikan oleh Bapak Soedarno SW.Pada tahun 1997 sampai tahun 2001 nama SMA 1 berubah menjadi SMUN 1 dan saat itu Kepala Sekolah dipegang oleh Bapak Arifin Rusmana.

Tahun 2001 Kepala Sekolah SMUN 1 dipegang oleh Bapak Triyana sampai 2004, yang mulai mengembangkan sekolah Berbasis Kompetensi dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi ( TIK ) sebagai pilihan kompetensi. Laboratorium Internet dengan 41 unit PC dibangun, dan Laboratorium Komputer dengan 41 unit PC juga dibangun. Koneksi jaringan Internet memakai Broadband ADSL 512 KBps dipakai sebagai sarana belajar siswa dan guru. Modul belajar komputer dan multimedia dikembangkan sendiri sesuai kebutuhan. Bapak Triyana juga meresmikan berdirinya climbing wall dengan lebar 4,5 meter dan tinggi 17 meter, yang merupakan Climbing wall tertinggi yang dimiliki institusi pendidikan di Jakarta.

Kemudian tahun 2004 digantikan oleh Bapak Ratiyono, yang melanjutkan program TIK dengan membangun Laboratorium Komputer khusus buat guru-guru, dan membangun kamera pengintai (CCTV) sebagai sarana pemantauan siswa dilingkungan sekolah. Tahun ajaran baru 2004-2005, nama SMUN 1 dirubah lagi menjadi SMAN 1 .

Pada tahun 2005 Bapak Ratiyono digantikan oleh Bapat Hermanto yang juga melanjutkan program TIK, mengembangkan kamera pengintai lebih banyak lagi dan menyediakan sarana HOTSPOT Wireless Acces Point dilingkungan SMA 1, menambah koneksi Internet Broadband menjadi 2 x 1 MB. Pada masa ini, peran serta Alumni melalui IKABOEDOET dalam mendukung kebutuhan sarana dan prasarana almamater SMA Negeri 1 Jakarta berhasil diwujudkan dengan dibangunnya Perpustakaan yang diikuti dengan sumbangan buku2 dan computer. Kemudian dimulainya renovasi kelas gedung lama yang dikembangkan menjadi kelas dengan perangkat multimedia (notebook, projector dan pendingin ruangan) beserta bangku+meja kelas yang baik dan nyaman untuk siswa belajar.

Tahun 2008, Kepala SMA Negeri 1 Jakarta dijabat oleh Bapak Agus Salisin yamg menerima hasil renovasi IKABOEDOET yang secara simbolis diserahkan kepada PEMDA DKI Jakarta melalui Gubernurnya Bapak Fauzi Bowo. Kemudian pengembangan sarana yang ada agar dapat mencukupi kebutuhan kegiatan ajar mengajar diteruskan, seperti menambah luas area HOTSPOT ke seluruh wilayah sekolah, menambah Bandwidth Internet menjadi 3 MB, renovasi Aula, ruang belajar gedung belakang dan ruang guru.

Pada awal tahun pelajaran 2007/2008 SMA Negeri 1 Jakarta menjadi Rintisan Sekolah Kategori Mandiri (SKM) yaitu sekolah yang dipersiapkan untuk menjadi sekolah Mandiri atau Sekolah Bertaraf Internasional pada tahun 2010. Sekolah Mandiri dalam pembelajaran menerapkan Sistem kredit semester (SKS) yaitu sistem yang memberi peluang peserta didik mengambil program pendidikan yang sesuai dengan potensi dan minatnya. Kecepatan belajar yang merupakan potensi peserta didik sangat diperhatikan dengan sistem kredit semester. Peserta didik yang memiliki kecepatan belajar yang tinggi dapat menyelesaikan program pembelajaran lebih cepat dibandingkan dengan peserta didik dengan kecepatan beleajar yang normal. Jadi manfaat penerapan sistem kredit semester pada sekolah formal mandiri adalah diperhatikannya kecepatan belajar peserta didik dalam melaksanakan pembelajaran dan penentuan mata pelajaran yang dipilih serta beban belajarnya, sehingga bagi peserta didik yang mampu dapat meneyelesaikan program pembelajaran lebih cepat.

SUMBER: http://www.sman1jkt.com/
Read more